Obat Diare Konstipasi

Pengetahuan dan pemahaman mengenai proses yang menyebabkan terjadinya diare memungkinkan klinisi untuk mengembangkan terapi obat yang paling efektif. Pada banyak pasien, onset diare terjadi tiba-tiba tetapi tidak terlalu parah dan dapat sembuh sendiri tanpa memerlukan pengobatan atau evaluasi. Pada kasus yang parah, risiko terbesar adalah dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit, terutama pada bayi, anak-anak, dan manula yang lemah. Oleh karena itu, terapi rehidrasi oral merupakan kunci utama untuk pasien sakit akut yang menyebabkan diare yang signifikan. Absorbsi natrium dan klorida berkaitan dengan ambilan glukosa oleh enterosit; yang diikuti oleh gerakan air dalam arah yang sama. Campuran yang seimbang antara glukosa dan elektrolit dalam volume yang setara dengan cairan yang hilang dapat mencegah terjadinya dehidrasi.

Obat antidiare nonspesifik biasanya tidak mengacu pada patofisiologi penyebab diare; prinsip pengobatan ini hanya menghilangkan gejala pada kasus diare akut yang ringan. Obat-obat ini kebanyakan  bekerja dengan menurunkan motilitas usus, dan sedapat mungkin tidak boleh diberikan pada penderita diare akut yang disebabkan oleh organisme.

Lempung (Clay) seperti kaolin (suatu alumunium silikat berhidrat) dan silikat lainnya seperti atapulgit (magnesium alumunium disilikat) mengikat air dalam jumlah besar, selain itu juga dapat mengikat endotoksin. Campuran kaolin dan pektin (polisakarida tanaman) merupakan obat over-the-counter yang populer dan dapat meredakan gejala diare ringan. Bismut subsalisilat diduga memiliki efek antisekretori, antiradang, dan antimikrobal selain itu, juga dapat meredakan mual dan kram abdomen.

Opioid masih terus digunakan secara luas untuk mengatasi diare dan bekerja melalui beberapa mekanisme yang berbeda, diperantarai terutama oleh reseptor myu atau gamma pada saraf enterik, sel epitel, dan otot. Mekanisme ini meliputi efek pada motilitas usus (reseptor myu), sekresi usus (reseptor gamma), atau absorpsi (reseptor myu dan gamma). Antidiare yang umum digunakan seperti difenoksilat, difenoksin, dan loperamid berkerja terutama melalui reseptor myu-opioid perifer dan lebih disukai daripada obat-obat lain karena keterbatasannya untuk berpenetrasi ke SSP.

Pasien menggunakan istilah konstipasi untuk penurunan frekuensi, kesulitan pada awal dan pelewatan, feses yang keluar tidak tuntas. Pada banyak kasus, konstipasi dapat diatasi dengan mengonsumsi makanan kaya serat (20-30 g setiap hari), meningkatkan asupan cairan (banyak minum), serta membiasakan dan melatih defekasi yang tepat. Jika tindakan nonfarmakologi saja tidak cukup atau tidak realistis (contoh, karena lanjut usia atau kondisi lemah), maka dapat ditambahkan dengan obat-obat pembentuk massa).

Bran (kulit ari padi-padian), memiliki kandungan lignin tinggi, sangat efektif dalam meningkatkan bobot feses. Buah dan sayuran mengandung lebih banyak pektin dan hemiselulosa, sehingga lebih cepat difermentasi dan efeknya terhadap transit feses lebih rendah. Kulit ari psilium (psyllium husk), yang diperoleh dari biji plantago, terdapat dalam banyak produk dagang konstipasi, beberapa diantaranya tersedia dalam bentuk wafer. Kulit ari psilium mengandung musiloid hidrofilik yang mengalami fermentasi signifikan di kolon, dan menghasilkan peningkatan massa bakteri kolon. Bermacam-macam selulosa semisintetik seperti metilselulosa dan polikarbofil juga tersedia. Senyawa yang fermentasinya buruk ini dapat menyerap air dan meningkatkan massa feses.

Laksatif yang mengandung kation Mg atau anion fosfat biasanya disebut laksatif garam. Kerja katartiknya diyakini disebabkan oleh retensi air yang diperantarai secara osmotik, yang kemudian menstimulasi peristaltik. Gliserin merupakan trihidroksi alkohol yang diabsorbsi secara oral, tetapi bekerja sebagai senyawa higroskopik dan lubrikan jika diberikan melalui rektal. Retensi air menstimulasi gerakan peristaltik dan biasanya menimbulkan gerakan usus dalam waktu kurang dari satu jam. Laktulosa, sorbitol, dan manitol merupakan gula yang tidak dapat diabsorpsi yang mengalami hidrolisis di usus menjadi asam organik sehingga mengasamkan isi lumen dan secara osmosis menarik air ke dalam lumen, sehingga menstimulasi motilitas propulsif kolon.

Laksatif Stimulan (Iritan) memiliki efek langsung terhadap enterosit, neuron enterik dan otot, yang baru mulai dimengerti akhir-akhir ini. Termasuk dalam kelompok ini adalah turunan difenilmetan (bisakodil dan fenolftalein), antrakuinon, dan asam risinoleat. Laksatif antarkuinon diperoleh dari tanaman, contohnya aloe, kaskara dan sena, yang telah digunakan turun temurun. Obat-obat ini dapat menyebabkan kontraksi kolon yang menyebabkan perpindahan massa besar-besaran dan juga menginduksi sekresi air dan elektrolit. Asam risinoleat (minyak jarak), suatu yang kandungan trigliserida asam risinoleatnya dihidrolisis di usus halus oleh lipase menjadi gliserol dan zat aktifnya, yakni asam risinoleat, yang terutama bekerja di usus halus menstimulasi sekresi cairan dan elektrolit serta mempercepat transit usus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: